Kesehatan, Aksarabrita.com // Kesemutan atau parestesia dapat dialami siapa saja, termasuk orang yang aktif berolahraga seperti atlet. Kondisi ini menimbulkan rasa kebas, mati rasa, atau sensasi seperti tertusuk jarum pada bagian tubuh tertentu.
Pada umumnya, kesemutan muncul dalam kondisi ringan dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun, kamu perlu meningkatkan kewaspadaan jika kesemutan muncul berulang atau berlangsung dalam waktu lama. Kondisi tersebut sering menjadi gejala awal berbagai penyakit serius.
Sejumlah penyakit yang kerap memicu kesemutan antara lain diabetes, saraf terjepit, carpal tunnel syndrome, gangguan tiroid, hingga penyakit ginjal kronis. Berikut ulasan lengkapnya.
Kesemutan merupakan sensasi tidak normal pada kulit, seperti kebas, gatal, atau mati rasa. Kondisi ini dapat muncul secara singkat (akut) maupun berlangsung lama (kronis).
Kesemutan ringan biasanya muncul akibat tekanan pada saraf, misalnya saat seseorang duduk atau menyilangkan kaki terlalu lama. Mengubah posisi tubuh umumnya dapat meredakan keluhan tersebut.
Namun, pada kondisi yang lebih serius, kesemutan sering muncul bersama nyeri, gatal hebat, mati rasa, hingga pengecilan otot. Kondisi ini menandakan gangguan kesehatan yang perlu segera ditangani tenaga medis.
Berikut beberapa penyakit yang sering memunculkan gejala kesemutan:
1. Diabetes
Sekitar 30 persen pengidap diabetes mengalami kesemutan akibat kerusakan saraf. Gejala biasanya muncul dari kaki, kemudian menjalar ke tangan, dan dapat berkembang menjadi kerusakan saraf ringan hingga berat.
2. Stroke
Stroke kerap menimbulkan kesemutan sebagai gejala awal. Kondisi ini sering disertai mati rasa, kesulitan berbicara, pusing mendadak, gangguan keseimbangan, hingga sakit kepala hebat.
3. Saraf Terjepit
Cedera, postur tubuh yang buruk, atau radang sendi dapat memicu saraf terjepit. Kondisi ini menyebabkan kesemutan pada leher, punggung, tangan, atau kaki, serta memicu nyeri yang mengganggu aktivitas.
4. Carpal Tunnel Syndrome
Gerakan tangan yang dilakukan secara berulang dapat menekan saraf pergelangan tangan. Tekanan tersebut memicu kesemutan, mati rasa, nyeri, hingga kelemahan pada tangan.
5. Gangguan Tiroid
Produksi hormon tiroid yang tidak seimbang dapat merusak saraf tepi. Akibatnya, penderita mengalami kesemutan, mati rasa, dan nyeri, terutama pada tangan dan kaki.
6. Penyakit Ginjal Kronis
Pengidap penyakit ginjal kronis sering mengalami kesemutan, terutama pada tahap lanjut. Kondisi ini biasanya disertai penurunan berat badan, anemia, mual, muntah, dan nyeri otot.
7. Serangan Jantung
Kesemutan pada tangan kiri kerap menjadi salah satu tanda serangan jantung. Gejala ini biasanya muncul bersama nyeri dada, sesak napas, kelelahan, mual, dan pusing.
8. Vaskulitis
Gangguan sistem kekebalan tubuh dapat memicu peradangan pembuluh darah atau vaskulitis. Kondisi ini merusak saraf dan menimbulkan kesemutan, mati rasa, ruam, kelelahan, serta gangguan saraf.
Selain penyakit, berbagai faktor lain juga dapat memicu kesemutan, antara lain:
- Duduk atau berdiri terlalu lama dalam posisi yang sama
- Cedera saraf
- Tekanan pada saraf tulang belakang atau saraf perifer
- Infeksi seperti herpes zoster, HIV/AIDS, TBC, kusta, dan sifilis
- Gangguan aliran darah
- Kekurangan vitamin B, seperti B1, B6, B12, dan asam folat
- Ketidakseimbangan elektrolit, seperti kalsium, kalium, dan natrium
- Efek samping penggunaan obat tertentu
- Terapi radiasi
- Gigitan serangga atau hewan
- Keracunan makanan laut
- Kondisi bawaan yang memengaruhi saraf
Jika kesemutan muncul berulang, semakin parah, atau disertai nyeri dan mati rasa, segera konsultasikan kondisi tersebut ke tenaga medis. Deteksi dini membantu pengendalian penyakit menjadi lebih efektif.









