Kesehatan, Aksarabrita.com // Langkah pertama anak menjadi salah satu momen yang paling dinanti oleh orang tua. Namun, banyak Ayah dan Bunda merasa cemas ketika anak belum mampu berjalan sesuai dengan usia perkembangannya.
Pada umumnya, anak mulai berdiri dan berjalan pada rentang usia 8 hingga 18 bulan. Di fase ini, anak belajar berjalan dengan merambat pada benda-benda di sekitarnya. Meski begitu, sejumlah faktor dapat memengaruhi keterlambatan kemampuan berjalan anak.
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan anak terlambat berjalan antara lain keterlambatan perkembangan sistem motorik. Selain itu, gangguan kekuatan dan tonus otot seperti cerebral palsy, hipotonia, atau distrofi otot juga dapat menghambat kemampuan berjalan.
Infeksi pada otak, seperti meningitis atau ensefalitis, serta riwayat cedera otak turut berperan dalam keterlambatan perkembangan motorik anak. Faktor lain yang sering muncul ialah kekurangan gizi atau defisiensi vitamin tertentu, misalnya rakitis.
Kurangnya stimulasi dari lingkungan juga memengaruhi kemampuan berjalan anak. Kebiasaan orang tua yang terlalu sering menggendong anak atau penggunaan baby walker dalam waktu lama dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar berdiri dan melangkah secara mandiri.
Selain itu, ibu yang mengalami infeksi selama masa kehamilan, seperti TORCH, berisiko melahirkan bayi dengan gangguan perkembangan yang berdampak pada kemampuan berjalan.
Orang tua perlu segera membawa anak ke dokter apabila anak berusia di atas 18 bulan namun belum mampu berjalan, berjalan dengan ujung kaki (jinjit), tampak pincang, atau menunjukkan kelainan bentuk kaki.
Untuk membantu menstimulasi kemampuan berjalan anak, orang tua dapat melakukan beberapa langkah berikut.
Pertama, orang tua dapat menuntun anak berjalan secara rutin. Dengan memegang kedua tangan anak dari belakang dan membantu melangkah perlahan, orang tua dapat memperkuat otot kaki anak sekaligus melatih keseimbangannya.
Kedua, orang tua perlu mengurangi kebiasaan menggendong anak. Memberi kesempatan anak bermain di lantai akan mendorongnya untuk berdiri, merambat, dan berjalan sendiri.
Ketiga, orang tua bisa meletakkan mainan di jarak tertentu. Cara ini dapat memancing anak bergerak dan mencoba melangkah untuk meraih mainan tersebut.
Keempat, membiasakan anak bertelanjang kaki di dalam rumah dapat membantu anak mengenali permukaan lantai dan meningkatkan keseimbangan tubuhnya.
Kelima, orang tua sebaiknya menghindari penggunaan baby walker. Alat ini justru dapat memperlambat perkembangan berjalan dan meningkatkan risiko cedera pada anak.
Selain itu, orang tua juga perlu memastikan lingkungan rumah aman dan bebas dari benda berbahaya saat anak mulai belajar berjalan.
Setiap anak memiliki kecepatan tumbuh kembang yang berbeda. Namun, apabila orang tua merasa khawatir dengan perkembangan motorik anak, konsultasi ke dokter menjadi langkah tepat untuk memperoleh penanganan dan saran yang sesuai. (Tim)




















