SungaiPenuh, Aksarabrita.com // Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT ke-80 PGRI biasanya menghadirkan suasana penuh suka cita di SMA Negeri 1 Sungai Penuh. Setiap tahun, halaman sekolah dipenuhi tawa, ucapan terima kasih, dan bunga yang siswa berikan kepada para guru.
Namun peringatan pada Senin (24/11/2025) berjalan dengan nuansa berbeda. Langit mendung seolah ikut memeluk duka yang masih menyelimuti seluruh warga sekolah.
Dalam kurun kurang dari satu tahun, dua guru terbaik Dorlan Tamba dan Dodi Irawan berpulang. Kepergian mereka yang tiba-tiba meninggalkan luka mendalam di hati banyak orang.
Sejak pagi, para siswa berdiri dalam barisan rapi dengan wajah tertunduk. Mereka melangkah perlahan, seakan membawa kenangan yang terlalu berat untuk dilepaskan.
Di barisan terdepan, dua siswa mengangkat bingkai foto almarhum Dorlan Tamba dan almarhum Dodi Irawan. Seorang siswa lain menggenggam karangan bunga dengan erat, seolah menjaga sesuatu yang sangat berharga.
Mereka berjalan menuju lapangan upacara dalam keheningan. Tidak ada tepuk tangan atau sorakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang terdengar hanya isak pelan dan napas berat yang mencoba menahan kesedihan.
Saat siswa menyerahkan karangan bunga kepada Kepala Sekolah Marwazy, suasana berubah menjadi tangis. Marwazy memeluk siswa yang menangis di depannya, berusaha menenangkan meski suaranya sendiri bergetar. Ia mengusap air matanya di balik kacamata hitam, sementara guru-guru lain ikut larut dalam duka.
Para siswa SMA Negeri 1 Sungai Penuh merasakan kehilangan sebesar para gurunya. Bagi mereka, Dorlan Tamba dan Dodi Irawan bukan hanya pendidik, tetapi teladan dalam disiplin, ketulusan, dan pengabdian.
Dorlan Tamba selalu datang paling awal dan pulang paling akhir. Ia memperhatikan setiap siswa dengan sungguh-sungguh, memadukan ketegasan dan kelembutan yang membuat banyak siswa merasa dihargai.
Sementara itu, Dodi Irawan bekerja dengan ketulusan yang tidak mudah tergantikan. Ia membantu siapa pun tanpa menunggu permintaan dan tidak pernah mengeluh. Banyak orang baru menyadari betapa besar pengorbanannya setelah beliau tiada.
Jejak keduanya tetap hidup dalam hati siswa dan rekan guru. Banyak guru muda mengakui bahwa mereka belajar disiplin, etika, dan keikhlasan dari dua sosok tersebut.
Peringatan Hari Guru tahun ini berubah menjadi momen perenungan mendalam. Warga sekolah meneguhkan kembali makna seorang pendidik: sosok yang mungkin pergi, tetapi nilai-nilai yang ia tanamkan terus menyala.
Di SMA Negeri 1 Sungai Penuh, nama Dorlan Tamba dan Dodi Irawan akan terus hidup sebagai cahaya yang pernah menerangi banyak perjalanan cahaya yang tak akan padam oleh waktu. (Tim)




















