Home / Viral & Artis

Selasa, 30 September 2025 - 15:23 WIB

Kontroversi Film Pengkhianatan G30S/PKI

Kontroversi Film Pengkhianatan G30S/PKI: Sejarah, Pemain, dan Pro-Kontra

Kontroversi Film Pengkhianatan G30S/PKI: Sejarah, Pemain, dan Pro-Kontra

Aksarabrita.com // Setiap 30 September, publik selalu kembali memperbincangkan film Pengkhianatan G30S/PKI. Sutradara Arifin C Noer menggarap film ini pada masa pemerintahan Orde Baru dan menayangkannya perdana pada 1984 di layar tancap Jakarta. Setahun kemudian, tepat pada 30 September 1985, TVRI menayangkan film tersebut secara nasional.

Film bergenre dokumenter-drama berdurasi 3 jam 40 menit ini menampilkan detail tragedi penculikan dan pembunuhan sejumlah petinggi militer Indonesia. Perum Produksi Film Nasional (PPFN) memproduksi film dengan produser Brigjen Gufran Dwipayana, staf Presiden Soeharto kala itu.

Cerita film bersumber dari buku Tragedi Nasional Percobaan Kup G 30 S/PKI di Indonesia karya Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh. Pemerintah menjadikan buku tersebut sebagai versi resmi mengenai peristiwa G30S.

Beberapa aktor yang membintangi film ini antara lain: Bram Adrianto, Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Syubah Asa. Mereka menghadirkan nuansa politik Indonesia tahun 1965 secara dramatis dan otentik.

Baca Juga :  Gary Iskak Meninggal Dunia Usai Kecelakaan

Proses produksi berlangsung selama dua tahun dengan biaya sekitar Rp800 juta, jumlah yang tergolong besar pada masa itu. Brigjen Gufran Dwipayana menegaskan bahwa ia membuat film ini untuk mendidik generasi muda agar menjauhi komunisme.

Film tersebut mencatat kesuksesan besar dengan meraih 699.282 penonton di DKI Jakarta sepanjang 1984. Jumlah itu melampaui film horor populer Nyi Blorong yang hanya meraih 354.790 penonton pada 1982.

Namun, sejak era Reformasi 1998, pemerintah tidak lagi mewajibkan penayangan film ini tiap tahun. Departemen Penerangan menilai film terlalu sering muncul, sedangkan Menteri Penerangan Muhammad Yunus menegaskan film itu tidak sejalan dengan semangat reformasi.

Film Pengkhianatan G30S/PKI menuai perdebatan di kalangan sejarawan dan masyarakat. Bonnie Triyana menilai film lebih berfungsi sebagai propaganda Orde Baru daripada representasi sejarah. Ia juga menyoroti adegan penyiksaan tujuh jenderal yang, menurut hasil visum, tidak sesuai fakta sejarah.

Baca Juga :  Bandar Narkoba DIringkus Polisi di Pamenang

Film membuka cerita dengan menggambarkan suasana politik Indonesia tahun 1965 yang penuh intrik. Narasi menunjukkan PKI sebagai pihak yang merencanakan kudeta. Adegan berlanjut pada penculikan jenderal, kekacauan malam 30 September, hingga penemuan jenazah di Lubang Buaya.

Klimaks film memperlihatkan operasi militer yang menurut narasi berhasil menumpas pemberontakan. Meski penuh tragedi, film tetap menyelipkan pesan tentang pentingnya menjaga keutuhan bangsa dan menjauhi ideologi yang dianggap berbahaya.

Share :

Baca Juga

Daerah

Penculikan Anak SD di Marelan Tiga Pelaku Ditangkap

Batang Hari

Penganiayaan Prada Lucky Seret Perwira Berpangkat Letda

Batang Hari

Ustadz Yahya Waloni Meninggal Dunia Usai Khutbah JumatĀ 

Daerah

Tragedi Panen Kuini Berujung Maut di Aceh
Kepsek di Tulungagung Meninggal di Hotel Saat Bersama Guru Muda

Hukum & Kriminal

Kepsek Meninggal di Hotel Saat Bersama Guru Muda
@dhemit_is_back

Hukum & Kriminal

Gatot Hariyanto alias @dhemit_is_back Bantah Tuduhan Penipuan
Khutbah Jumat: Sikap Tepat Seorang Saat Menghadapi Bully

Nasioanal

Khutbah Jumat: Sikap Tepat Seorang Saat Menghadapi Bully

Daerah

Gara-gara Utang Pria Ini Cekik dan Todong Pistol ke Ipar