Padang, Aksarabrita.com –Pemerintah Kota Padang meluncurkan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) Tahun 2026 di Ruang Bagindo Aziz Chan, Balai Kota Padang, Kamis (15/10/2026). Program ini memperkuat literasi kependudukan di kalangan pelajar melalui pendidikan formal.
Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa menghadiri peluncuran tersebut bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Padang Boby Firman, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang Yopi Krislova, perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Yasril, serta para kepala sekolah SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA se-Kota Padang.
Dalam arahannya, Raju Minropa menegaskan bahwa isu kependudukan tidak hanya menyangkut jumlah penduduk. Pemerintah dan masyarakat juga perlu memperhatikan kualitas sumber daya manusia, persebaran penduduk, struktur umur, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, dan kesejahteraan keluarga.
Raju menilai sekolah memiliki peran penting dalam membangun pemahaman generasi muda tentang berbagai persoalan kependudukan. Karena itu, ia mengajak pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat memperkuat sinergi untuk menyukseskan program SSK.
“Peluncuran Sekolah Siaga Kependudukan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat pemahaman generasi muda sekaligus merajut sinergi yang solid antara pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat,” ujar Raju.
Ia juga meminta setiap sekolah menerapkan program tersebut melalui kegiatan nyata. Para guru dapat memasukkan materi kependudukan ke dalam mata pelajaran yang relevan dan mengembangkan media edukasi kreatif agar siswa lebih mudah memahami berbagai persoalan kependudukan.
Sementara itu, Kepala Dinas DP3AP2KB Kota Padang Boby Firman menjelaskan bahwa program SSK mendorong sekolah memasukkan wawasan kependudukan ke dalam kegiatan pembelajaran sesuai jenjang pendidikan.
Pada jenjang pendidikan dasar, guru mengenalkan konsep keluarga dan lingkungan melalui materi sederhana. Sementara itu, pada jenjang menengah, guru mengajak siswa mendalami isu kesehatan remaja, pendewasaan usia perkawinan, perencanaan masa depan, dan pencegahan perilaku berisiko. (***)




















