Kesehatan, Aksarabrita.com // Lima jenis hepatitis—A, B, C, D, dan E—memiliki karakter berbeda. Di antara semuanya, hepatitis B menjadi penyakit yang perlu Anda waspadai. Virus ini menyerang sel-sel hati, memicu peradangan, dan meningkatkan risiko kerusakan hati jangka panjang.
Hepatitis B termasuk infeksi hati yang bisa berkembang menjadi hepatitis akut maupun kronis. Pada sebagian penderita, penyakit ini bahkan berujung pada sirosis atau kanker hati.
Banyak penderita hepatitis B tidak merasakan gejala apa pun sehingga mereka tidak sadar sudah terinfeksi. Pada sebagian orang, gejala baru muncul setelah 1–4 bulan. Gejalanya meliputi:
- Sakit perut
- Urine berwarna gelap
- Demam
- Nyeri sendi
- Hilang nafsu makan
- Mual dan muntah
- Tubuh terasa lemas
- Kulit dan mata menguning
Virus hepatitis B (HBV) memicu sebagian besar kasus hepatitis B. Namun beberapa kondisi lain juga bisa menimbulkan gangguan hati seperti ini, antara lain:
- Penyakit autoimun
- Konsumsi obat tertentu
- Perlemakan hati dengan peradangan (steatohepatitis)
Virus hepatitis B dapat menyebar secara vertikal maupun horizontal.
Penularan vertikal terjadi ketika ibu menularkan virus kepada bayi saat kehamilan atau persalinan.
Penularan horizontal terjadi melalui:
- Hubungan seksual tanpa kondom
- Transfusi darah
- Berbagi alat pribadi seperti pisau cukur atau sikat gigi
- Penggunaan jarum suntik bersama
- Proses tindik
- Pembuatan tato dengan jarum tidak steril
Dokter melakukan dua jenis pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis hepatitis B.
1. Pemeriksaan serologi
Dokter menilai aktivitas virus melalui HBsAg dan HBV DNA. Jika HBsAg tetap positif lebih dari enam bulan dan kadar HBV DNA tinggi, dokter menyimpulkan pasien mengalami hepatitis B kronis.
2. Pemeriksaan biokimiawi (SGOT/SGPT)
Dokter menilai tingkat peradangan hati untuk menentukan terapi yang tepat.
Dokter menyesuaikan pengobatan dengan kondisi pasien.
Sebagian besar pasien pulih tanpa terapi khusus. Dokter biasanya menyarankan pasien untuk:
- Istirahat cukup
- Mengonsumsi makanan bergizi
- Minum air putih yang cukup
- Memantau gejala
Jika kondisi memburuk, dokter memberikan antivirus dan merawat pasien di rumah sakit.
Pasien hepatitis B kronis membutuhkan pengobatan jangka panjang untuk menekan risiko kerusakan hati dan mencegah penularan. Dokter dapat memberikan:
- Obat antivirus seperti entecavir, TDF, dan TAF
- Suntikan interferon pada kondisi tertentu
- Transplantasi hati jika kerusakan hati berat
Vaksin hepatitis B membantu masyarakat mencegah infeksi. Tenaga kesehatan memberikan vaksin ini kepada:
- Bayi
- Anak-anak
- Orang dewasa yang belum terinfeksi
Namun orang yang telah terinfeksi hepatitis B tidak memperoleh manfaat dari vaksin ini.









