Aksarabrita com – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengajak para penghafal Al-Qur’an untuk terus memperdalam ilmu dan tidak berhenti pada capaian hafalan 30 juz. Menurutnya, hafalan hanya menjadi gerbang awal untuk memahami kandungan Al-Qur’an secara utuh.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri Wisuda Tahfidz ke-16 Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah di Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026).
Di hadapan 350 wisudawan dan wisudawati, ia menjelaskan empat tingkatan pemahaman Al-Qur’an yang harus ditempuh para pencari ilmu.
Menag menjelaskan, tingkatan pertama adalah Ibarat Al-Qur’an. Pada tahap ini, seseorang mempelajari tajwid, membaca Al-Qur’an dengan benar, dan menghafal seluruh ayat.
Setelah menguasai tahap tersebut, seorang penghafal Al-Qur’an perlu naik ke tingkat Isyarat Al-Qur’an. Pada fase ini, seseorang harus menguasai ilmu bahasa Arab, seperti nahwu, sharaf, dan balaghah untuk memahami pesan yang terkandung dalam ayat.
Tingkatan berikutnya adalah Latha’if Al-Qur’an. Pada tahap ini, seseorang mulai memahami nilai spiritual, hikmah, dan makna batin yang tersimpan di balik ayat-ayat Al-Qur’an.
Adapun tingkatan tertinggi adalah Haqaiqul Qur’an. Pada fase ini, seseorang berusaha menyelami hakikat terdalam dari Kalamullah dan menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.
“Bangsa Indonesia dan dunia membutuhkan orang-orang yang mencapai tingkat Haqaiqul Qur’an. Meski jumlahnya sedikit, mereka dapat menjadi cahaya yang menerangi banyak orang,” kata Nasaruddin Umar.
Untuk mencapai tingkatan tersebut, Menag menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. Ia meminta para santri tidak hanya mengandalkan konsentrasi dan logika, tetapi juga memperkuat kontemplasi serta meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT.
Nasaruddin Umar juga mengingatkan para wisudawan agar menjadikan wisuda tahfidz sebagai titik awal perjalanan keilmuan.
“Jangan anggap wisuda ini sebagai akhir perjalanan. Jadikan momentum ini sebagai langkah awal untuk terus menggali ilmu dan memahami Al-Qur’an lebih dalam,” ujarnya.
Selain memberikan motivasi kepada para santri, Menag juga mengapresiasi Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah yang konsisten membina generasi penghafal Al-Qur’an. Ia menilai yayasan tersebut berhasil mencetak hafiz dan hafizah yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Menag menutup sambutannya dengan mengingatkan pentingnya menghormati orang tua. Menurutnya, dukungan dan doa orang tua menjadi salah satu kunci keberhasilan anak dalam menghafal Al-Qur’an. (***)









