Home / Daerah / Pemerintah / Sungai Penuh

Minggu, 12 Oktober 2025 - 08:42 WIB

Melagukan Yasin dan Maknanya: Warisan Religius Sungai Penuh


Melagukan Yasin dan Maknanya: Warisan Religius Sungai Penuh

Melagukan Yasin dan Maknanya: Warisan Religius Sungai Penuh

Aksarabrita.com // Sungai Penuh merupakan salah satu kota di Provinsi Jambi yang menyuguhkan keindahan alam memukau dan kekayaan budaya yang beragam. Masyarakat menjuluki kota ini sebagai “Sekepal Tanah Surga” karena tradisi dan nilai-nilai luhur yang terus hidup dari generasi ke generasi. Salah satu tradisi religius yang melekat kuat, terutama di Kecamatan Koto Baru, yaitu pengajian melagukan Surat Yasin beserta maknanya.

Sayangnya, tradisi ini perlahan menghilang di tengah arus modernisasi dan gaya hidup praktis. Padahal, kegiatan ini bukan sekadar membaca ayat-ayat suci, melainkan juga sarana untuk belajar, merenung secara spiritual, dan membangun hubungan sosial yang erat di antara warga.

Makna di Balik Tradisi Melagukan Yasin

Masyarakat Sungai Penuh tidak hanya membaca Surat Yasin secara rutin, tetapi juga melagukannya beserta maknanya untuk memperdalam pemahaman terhadap isi Al-Qur’an. Mereka menggunakan irama khas dalam melagukan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu langsung melanjutkannya dengan pembacaan makna dalam bahasa Indonesia menggunakan irama yang sama.

Melalui cara ini, jamaah dapat lebih mudah menghafal, memahami, dan meresapi makna spiritual yang terkandung dalam setiap ayat. Tradisi ini mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf-huruf Arab, tetapi juga menyerap pesan-pesan ilahi yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga :  Festival Pemuda Tanjung Pauh, Dandim: Ini Wadah Kreativitas Anak Muda

Dimensi Sosial dan Kultural

Tradisi melagukan Yasin tidak hanya mengandung nilai ibadah, tetapi juga nilai sosial yang sangat penting. Kegiatan ini mempertemukan warga dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, dalam satu ruang kebersamaan. Masyarakat menggunakan momen ini untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat tali silaturahmi antarwarga.

Tokoh agama yang disebut ‘guru’ memimpin pembacaan Yasin. Masyarakat memilih guru ini melalui musyawarah dengan mempertimbangkan pemahaman agama, kemampuan melagukan ayat, serta penguasaan budaya lokal. Mereka biasanya mengadakan pengajian ini pada malam Jumat, namun kegiatan ini juga sering digelar dalam acara tahlilan atau syukuran.

Rangkaian Acara dan Suasana Pengajian

Pengajian melagukan Surat Yasin dan maknanya berlangsung selama kurang lebih dua jam. Karena mereka melagukannya secara perlahan dan penuh penghayatan, kegiatan ini tentu membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan membaca biasa.

Pengajian dimulai dengan melagukan Surat Al-Fatihah per ayat beserta maknanya. Setelah itu, jamaah melanjutkan dengan Surat Yasin hingga ayat ke-53. Setelah sampai di titik ini, jamaah beristirahat sekitar 15 menit sambil menikmati “paminum kawu”, yaitu hidangan khas yang disiapkan oleh tuan rumah, seperti lemang, kue cucur, dodol kentang, atau roti canai. Momen ini mereka manfaatkan untuk berbincang santai dan mempererat keakraban.

Baca Juga :  Pemkot Sungai Penuh Gelar Juara Fun Run, Tema Pencegahan Stunting

Setelah istirahat, jamaah melanjutkan pembacaan mulai dari ayat 54 hingga ayat terakhir Surat Yasin. Guru kemudian menutup acara dengan doa yang berisi permohonan ampunan, keselamatan, serta penyampaian hajat dari seluruh jamaah.

Tak hanya itu, dalam beberapa kesempatan, jamaah juga melagukan “Pelajaran Akhlak” beserta maknanya setelah selesai membaca Yasin. Bagian ini berisi nasihat tentang akhlak terhadap Allah, Rasulullah, orang tua, dan sesama manusia, nilai-nilai moral yang sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Tradisi melagukan Surat Yasin beserta maknanya di Kecamatan Koto Baru merepresentasikan lebih dari sekadar praktik ibadah. Masyarakat memanfaatkannya sebagai media pendidikan spiritual, sosial, dan budaya yang sangat bermakna. Sayangnya, masyarakat mulai meninggalkan tradisi ini seiring dengan perubahan zaman.

Untuk itu, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah perlu bekerja sama menjaga dan melestarikan warisan ini. Dengan merawat tradisi ini, masyarakat Sungai Penuh tidak hanya mempertahankan identitas budaya religius mereka, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan spiritual di tengah tantangan modernitas.

(DS)

Share :

Baca Juga

Daerah

Kodim 0417 Kerinci Gelar Isra Miraj’ Bersama Forkopimda, Tokoh Agama dan Masyarakat
Pelantikan dan penyerahan SK PPPK Paruh Waktu Kabupaten Kerinci Formasi 2025 akan digelar Minggu, 21 Desember 2025 di Lapangan Kantor Bupati Kerinci. Simak jadwal dan ketentuannya.

Daerah

BKPSDMD Kerinci Jadwalkan Pelantikan PPPK Paruh Waktu 2025
Mulai April Isi Pertalite dan Solar dibataasi Ini Jatah Perhari!

Pemerintah

Mulai April Isi Pertalite dan Solar dibataasi Ini Jatah Perhari!

Daerah

Pj. Bupati ASRAF Pimpin Rapat Kerja Penanganan Bencana Banjir dan Longsor di Bukit Tengah

Religi

Wako Alfin Tegaskan Komitmen Atasi Banjir di Kota Sungai Penuh

Daerah

Pj Bupati Dampingi Gubernur Tutup Turnamen Al Haris Cup 2024
Foto Peyerahan SK PPPK Tahap I Kota Sungai Penuh 2024 (Humas)

Daerah

Teng! PPPK Paruh Waktu Kota Sungai Penuh Dilantik Besok

Daerah

Warga Desa Air Mumu Kembali Demo Lanjutan di Kejaksaan