Kesehatam, Aksarabrita.com // Anus yang terasa perih setelah buang air besar adalah keluhan yang cukup sering terjadi. Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia bisa merasakannya. Meski terlihat ringan, rasa perih ini dapat mengganggu aktivitas harian dan membuat seseorang merasa tidak nyaman sepanjang hari. Karena itu, penting untuk memahami berbagai kemungkinan penyebabnya serta langkah yang tepat untuk mengatasinya.
Banyak orang mengira bahwa anus perih selalu berasal dari wasir. Faktanya, ada berbagai kondisi lain yang dapat memicu rasa perih, panas, atau sensasi terbakar setelah buang air besar. Mulai dari iritasi ringan karena tisu kasar, hingga adanya luka yang membutuhkan penanganan khusus.
Di bawah ini adalah beberapa penyebab yang paling umum:
1. Fisura Ani
Fisura ani merupakan robekan kecil pada dinding anus. Robekan ini biasanya terbentuk ketika feses terlalu keras atau saat seseorang mengejan terlalu kuat.
Rasa perih yang muncul sering terasa tajam saat BAB, lalu bertahan selama beberapa jam. Pada beberapa kasus, fisura ani juga menyebabkan keluarnya darah segar di tisu atau permukaan feses.
2. Wasir (Ambeien)
Wasir muncul ketika pembuluh darah di area anus mengalami pembengkakan. Kondisi ini menimbulkan nyeri, rasa mengganjal, gatal, dan perih setelah BAB.
Perih biasanya terasa lebih kuat ketika feses keras melewati pembengkakan tersebut. Faktor risiko umum meliputi kebiasaan duduk terlalu lama, mengejan keras, kehamilan, dan pola makan rendah serat.
3. Iritasi Kulit
Kulit sekitar anus mudah mengalami iritasi. Tisu toilet yang kasar, sabun dengan alkohol atau parfum, serta tisu basah beraroma dapat memicu kemerahan, gatal, panas, dan perih.
Bahkan, cara membersihkan anus yang terlalu keras juga bisa membuat kulit mengelupas atau terluka.
4. Kebiasaan Membersihkan Anus yang Tidak Tepat
Membersihkan anus dengan benar memang penting. Namun, gosokan yang terlalu kuat atau penggunaan produk kimia yang tidak sesuai justru menimbulkan iritasi.
Setiap kali selesai BAB, perih bisa semakin terasa bila kulit sudah dalam kondisi sensitif.
5. Infeksi Jamur atau Bakteri
Area anus yang lembap atau kurang bersih dapat memicu pertumbuhan jamur dan bakteri. Kondisi ini menimbulkan gejala berupa gatal, panas, perih, kemerahan, bahkan pembengkakan.
Terkadang, infeksi juga menyebabkan munculnya cairan dari sekitar anus.
6. Diare atau BAB Terlalu Sering
Feses cair dan frekuensi BAB yang tinggi membuat kulit anus sering bergesekan dengan feses asam. Lama-kelamaan kulit menjadi lecet, iritasi, dan akhirnya perih setiap kali selesai BAB.
Kondisi ini sering muncul pada anak-anak, lansia, atau orang yang sedang mengalami infeksi saluran cerna.
Beberapa langkah sederhana dapat membantu meredakan keluhan dan mempercepat pemulihan:
- Kompres area anus dengan kain bersih dan air dingin.
- Bersihkan anus menggunakan air tanpa menggosok berlebihan.
- Gunakan tisu lembut untuk mengeringkan area tersebut.
- Perbanyak makanan berserat, seperti buah, sayur, dan biji-bijian, untuk membuat feses lebih lunak.
- Hindari penggunaan produk yang mengandung alkohol atau parfum di area anus.
- Jangan menahan BAB karena dapat membuat feses mengeras dan memperburuk luka atau iritasi.
- Gunakan salep khusus sesuai anjuran dokter bila keluhan berlangsung lama.
Jika rasa perih muncul berulang, tidak membaik setelah perawatan mandiri, atau disertai gejala seperti perdarahan, pembengkakan berat, demam, atau keluarnya cairan, segera periksa ke dokter. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti serta memberikan pengobatan yang sesuai.
Keluhan anus perih setelah BAB memang dapat membuat tidak nyaman, tetapi sebagian besar kasus dapat membaik dengan perawatan yang tepat. Memahami penyebabnya dan memperbaiki kebiasaan sehari-hari dapat membantu mencegah masalah ini terjadi kembali.










