Jakarta, Aksarabrita.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menempatkan pembangunan jalur kereta api Banda Aceh–Besitang sebagai prioritas utama dalam tahap awal proyek Trans Sumatera. Program ini masuk dalam roadmap pengembangan KAI periode 2026-2030 untuk menghubungkan kembali jaringan rel di wilayah utara Pulau Sumatera.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan jalur yang menghubungkan Banda Aceh dengan Besitang, Sumatera Utara, memiliki panjang sekitar 478 kilometer. Saat ini tim KAI tengah menyusun Detail Engineering Design (DED) sebagai dasar pelaksanaan proyek.
“Prioritas pertama kami adalah menghubungkan Banda Aceh dengan Besitang. Saat ini kami sedang menyusun DED-nya,” kata Bobby saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6).
Bobby menilai proyek tersebut akan memperkuat konektivitas transportasi dan logistik di Pulau Sumatera. Kehadiran jalur ini juga akan mempercepat mobilitas masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Aceh dan Sumatera Utara.
Tiga Segmen Jalur Kereta di Aceh
KAI membagi proyek ini ke dalam tiga segmen utama. Segmen pertama menghubungkan Banda Aceh dan Sigli sepanjang 80 kilometer.
Segmen kedua menghubungkan Sigli, Bireuen, dan Lhokseumawe dengan panjang sekitar 150 kilometer.
Segmen ketiga menghubungkan Lhokseumawe, Langsa, dan Besitang sepanjang 248 kilometer. Jalur tersebut nantinya menghubungkan jaringan kereta api Aceh dengan Sumatera Utara sekaligus memperlancar arus penumpang dan distribusi barang.
Wujudkan Jaringan Kereta Trans Sumatera
KAI memasukkan proyek Banda Aceh–Besitang ke dalam rencana besar pembangunan jaringan kereta api Trans Sumatera yang membentang dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung.
Pemerintah menargetkan hadirnya jaringan kereta yang terintegrasi di seluruh Pulau Sumatera. Melalui proyek ini, pemerintah ingin menghubungkan jalur-jalur kereta yang selama ini berdiri sendiri.
Pembangunan Trans Sumatera membutuhkan investasi sekitar USD 20 hingga 25 miliar atau setara Rp350 triliun. Untuk pembangunan jalur rel, KAI memperkirakan kebutuhan anggaran sekitar Rp20 miliar per kilometer untuk jalur tunggal.
Apabila proyek berjalan sesuai rencana, jaringan kereta api Trans Sumatera akan memperkuat konektivitas antarwilayah, menekan biaya logistik, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah sepanjang lintasan kereta.(**)








