JAKARTA – Nama Herri Pras mendadak menjadi sorotan publik setelah pernyataannya yang diduga menghina Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH) memicu kontroversi hingga berujung tantangan duel dengan sejumlah praktisi bela diri, termasuk petarung Mixed Martial Arts (MMA), Yudi Cahyadi.
Perseteruan semakin memanas ketika Yudi Cahyadi bersama sejumlah orang mendatangi kediaman Herri Pras. Peristiwa tersebut kemudian ramai menghiasi media sosial setelah sejumlah video memperlihatkan adu argumen hingga kontak fisik antara kedua pihak.
Di balik kontroversi itu, Herri Pras memiliki latar belakang sebagai praktisi pencak silat sekaligus pendiri Pencak Silat Garuda Indonesia (PSGI).
Herri Pras merupakan nama populer Heri Prasetiawan. Ia mendirikan PSGI pada 13 Januari 2017 di Jember, Jawa Timur. Dalam perguruan tersebut, Herri menjabat sebagai pendiri sekaligus Guru Besar.
Ketertarikan Herri terhadap dunia bela diri tumbuh sejak kecil. Saat berusia delapan tahun, ia mulai mempelajari pencak silat tradisional bersama kakak dan pamannya.
Seiring perjalanan waktu, Herri memperdalam berbagai aliran bela diri, mulai dari Tapak Suci, Taekwondo, capoeira akrobatik, extreme martial arts tricking, Pencak Silat Gerak Binatang (PSGB), hingga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Selain menekuni dunia persilatan, Herri juga aktif sebagai kreator konten digital. Sejak 2019, ia mengembangkan kanal YouTube dengan berbagai konten teknik bela diri, jurus persilatan, dan pembahasan lainnya.
Namun, kontennya kemudian merambah persoalan keagamaan dan komentar terhadap sejumlah tokoh publik. Gaya komunikasinya yang kontroversial beberapa kali memancing perdebatan warganet.
Polemik Pernyataan tentang UAS dan UAH
Kontroversi terbaru bermula dari sejumlah video Herri Pras yang menyinggung Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Adi Hidayat.
Pernyataan tersebut memancing reaksi sejumlah pihak. Sebagian warganet menilai komentar Herri melampaui batas kritik dan mengarah pada penghinaan terhadap tokoh agama.
Situasi semakin memanas ketika Herri melontarkan tantangan duel kepada pihak yang membela UAH. Ia juga mengajukan sejumlah persyaratan sebelum menjalani pertarungan.
Polemik itu menarik perhatian Yudi Cahyadi, petarung MMA yang pernah tampil dalam ajang Road to UFC.
Yudi merespons tantangan Herri melalui media sosial. Perselisihan keduanya kemudian berkembang hingga memunculkan rencana pertemuan secara langsung.
Rombongan Petarung Datangi Rumah Herri Pras
Ketegangan mencapai puncaknya pada Senin (2/11/2026). Yudi Cahyadi bersama sejumlah orang mendatangi kediaman Herri Pras di kawasan Gunung Putri, Bogor.
Awalnya, pertemuan tersebut berkaitan dengan polemik tantangan duel yang ramai di media sosial. Namun, kedua pihak justru terlibat adu argumen hingga situasi memanas.
Melalui media sosial, Herri mengaku tidak menolak duel begitu saja. Ia menyatakan memiliki sejumlah persyaratan sebelum pertarungan berlangsung.
Herri juga mengaku mengalami kekerasan dari salah satu orang yang datang. Menurut pengakuannya, seseorang menendang perutnya hingga ia terjatuh. Setelah bangkit, ia kembali menerima pukulan dan serangan lutut di bagian ulu hati serta perut.
Merasa situasi semakin tidak terkendali, Herri masuk ke dalam rumah dan menghubungi polisi melalui layanan darurat 110.
Herri kemudian melaporkan sekitar 20 orang ke Polres Bogor. Dalam laporannya, ia mengadukan dugaan intimidasi, persekusi, provokasi, dan kekerasan.
Profil Herri Pras Jadi Perhatian Publik
Peristiwa tersebut kembali mengangkat nama Herri Pras ke ruang publik. Latar belakangnya sebagai pendiri perguruan silat, kreator konten, dan praktisi bela diri turut menarik perhatian masyarakat.
Kasus ini juga memunculkan perdebatan mengenai batas kebebasan berpendapat, etika menyampaikan kritik terhadap tokoh agama, serta larangan main hakim sendiri.
Perbedaan pandangan seharusnya mendorong masyarakat mengedepankan dialog dan argumentasi yang sehat. Setiap dugaan kekerasan juga perlu melalui proses hukum agar aparat dapat mengungkap fakta dan memberikan keadilan kepada semua pihak.
Hingga berita ini ditulis, publik masih menunggu penjelasan resmi dari seluruh pihak terkait untuk mengetahui kronologi lengkap peristiwa tersebut. (**)

















