Aksarabrita.com // Kasus wanita berseragam pramugari Batik Air yang viral di media sosial akhirnya terungkap. Kepolisian memastikan perempuan bernama Khairun Nisa bukan awak kabin resmi, melainkan korban penipuan lowongan kerja yang menjanjikan kelulusan sebagai pramugari dengan imbalan puluhan juta rupiah.
Polres Bandara Soekarno-Hatta mengungkap fakta tersebut setelah melakukan pemeriksaan terhadap Khairun Nisa. Polisi menyatakan Nisa menjadi korban oknum yang mengaku mampu meloloskannya sebagai pramugari maskapai di Jakarta.
“Berdasarkan keterangan yang bersangkutan, memang ada pihak yang menawarkan bantuan masuk kerja sebagai pramugari dan meminta uang Rp30 juta,” ujar Reskrim Polres Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, Selasa (13/1).
Meski demikian, Nisa belum mengajukan laporan resmi terkait dugaan penipuan tersebut. Polisi kemudian menyerahkan Nisa kepada pihak keluarga di Jakarta untuk pendampingan lebih lanjut.
Kasus ini mencuat setelah video seorang wanita berseragam lengkap Batik Air beredar luas di media sosial. Rekaman tersebut memperlihatkan seorang perempuan muda berjalan percaya diri di area keberangkatan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, layaknya awak kabin resmi.
Dalam video yang viral, Nisa mengenakan seragam ungu khas Batik Air lengkap dengan riasan, aksesori, dan kartu identitas yang terlihat meyakinkan. Penampilan tersebut sempat membuat sejumlah penumpang percaya bahwa ia merupakan kru penerbangan.
Kecurigaan muncul setelah beberapa pihak menilai detail atribut yang dikenakan tidak sepenuhnya sesuai standar resmi. Petugas bandara kemudian melakukan pemeriksaan dan memastikan nama Nisa tidak tercatat sebagai awak kabin Batik Air.
Dalam pemeriksaan, Nisa mengaku tidak berniat melakukan tindak kejahatan. Ia nekat mengenakan seragam pramugari karena merasa tertekan dan malu kepada keluarga. Sebelumnya, ia telah pamit mengikuti seleksi pramugari, namun justru menjadi korban penipuan.
Nisa juga mengakui sempat ikut penerbangan Batik Air rute Palembang–Jakarta sebelum kru mencurigai identitasnya. Ia berangkat dari rumah dengan mengenakan seragam tersebut dan berencana menggantinya sebelum naik pesawat. Namun, waktu keberangkatan yang mepet membuatnya tetap mengenakan atribut pramugari hingga berada di area boarding.
Hingga saat ini, pihak Batik Air maupun otoritas bandara belum menyampaikan keterangan resmi terkait evaluasi sistem keamanan pascakejadian. Namun, kasus ini kembali menegaskan pentingnya verifikasi identitas yang ketat demi menjaga keselamatan penumpang dan operasional penerbangan. (***)








