TANJAB BARAT — Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat menyiapkan petani menghadapi musim hujan melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) Provinsi Jambi Tahun 2026. Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat, Dr. H. Katamso SA., S.E., M.E., membuka kegiatan tersebut di Ruang Pola Utama Kantor Bupati Tanjung Jabung Barat, Kamis (24/9/2026)
SLI 2026 mengusung tema “Tanggap Iklim untuk Perkebunan Ramah Lingkungan dan Tangguh Menghadapi Musim Kemarau”. Sebanyak 50 peserta dari kalangan pekebun, penyuluh lapangan, dan petani mengikuti kegiatan tersebut.
Katamso mengapresiasi BMKG Pusat dan Stasiun Klimatologi Jambi yang memilih Tanjung Jabung Barat sebagai lokasi SLI 2026. Ia menilai kegiatan tersebut penting untuk meningkatkan pemahaman petani dan pekebun dalam menghadapi perubahan kondisi iklim.
Menurut Katamso, sektor pertanian memiliki peran penting dalam perekonomian Tanjung Jabung Barat. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,28 persen dan menjadi yang tertinggi di Provinsi Jambi. Tanjung Jabung Barat juga memberikan kontribusi 17,88 persen terhadap PDRB Provinsi Jambi.
Sektor pertanian menyumbang sekitar 34 persen terhadap perekonomian daerah. Dari angka tersebut, subsektor perkebunan menyumbang sekitar 66 persen.
“Karena itu, sektor pertanian dan perkebunan harus terus kita kembangkan agar semakin produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Katamso.
Petani Perlu Manfaatkan Informasi BMKG
Katamso meminta petani dan pekebun memanfaatkan informasi cuaca dan iklim dari BMKG untuk menentukan waktu serta langkah pengelolaan pertanian.Ia menilai perubahan iklim membuat pola musim semakin sulit diprediksi. Karena itu, petani perlu menggunakan informasi iklim sebagai acuan, bukan hanya mengandalkan kebiasaan atau pola musim sebelumnya.
“Informasi dari BMKG harus menjadi dasar dalam mengambil langkah, termasuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan pertanian dan perbaikan saluran,” katanya.
Katamso juga meminta masyarakat memanfaatkan informasi iklim untuk mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia berharap tren hotspot yang kini menurun terus terkendali saat musim hujan tiba.
Kekeringan juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Dari sekitar 7.600 hektare lahan sawah di Tanjung Jabung Barat, sekitar 92 hektare mengalami dampak kekeringan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produksi padi serta pencapaian target pangan daerah dan nasional.
Katamso meminta peserta menyerap materi SLI dan meneruskannya kepada petani serta masyarakat di wilayah masing-masing.“Saya berharap para peserta dapat menyerap seluruh materi yang diberikan dan meneruskannya kepada petani serta masyarakat di wilayah masing-masing,” ujarnya.
BMKG Prediksi Musim Hujan Mulai 3 Oktober
Kepala Stasiun Klimatologi Jambi, Darmadi, S.T., selaku Ketua Panitia, menjelaskan SLI bertujuan meningkatkan literasi iklim dan kemampuan teknis pekebun dalam menggunakan informasi cuaca dan iklim BMKG.Darmadi mendorong peserta memanfaatkan informasi tersebut untuk mengelola lahan secara produktif, berkelanjutan, dan ramah lingkungan, terutama saat menghadapi perubahan musim.
“Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu menggunakan informasi iklim dalam menentukan langkah pengelolaan lahan, terutama pada musim kemarau, termasuk mencegah pembukaan dan pengelolaan lahan dengan cara membakar,” jelasnya.
Kegiatan SLI juga memperkuat kolaborasi lintas sektor. Sejumlah instansi dan unsur terkait ikut mendukung kegiatan, antara lain Dinas Perkebunan dan Peternakan, BPBD, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, TNI/Polri, Basarnas, Manggala Agni, serta sektor swasta.
Dalam kegiatan tersebut, Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Pusat, Dr. Marjuki, M.Si., mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom. Koordinator Bidang Iklim Terapan, Siswanto, menyampaikan materi dan pesan Marjuki.
Siswanto mengatakan perubahan iklim membutuhkan peningkatan kapasitas petani dan pemanfaatan informasi iklim secara nyata di lapangan.Ia menyebut prediksi BMKG menunjukkan fenomena El Niño masih berpotensi berlangsung hingga awal 2027. Namun, sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada Oktober–November.
Untuk wilayah Jambi, khususnya Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, BMKG memprediksi awal musim hujan sekitar 3 Oktober 2026.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah, petani, dan pemangku kepentingan menyiapkan langkah menghadapi perubahan cuaca dan iklim.
“Informasi iklim perlu dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan pertanian dan perkebunan, pemantauan risiko, serta pencegahan karhutla. Sekolah Lapang Iklim diharapkan menghasilkan langkah nyata di lapangan, bukan hanya sebatas pembelajaran,” ujar Siswanto.
BMKG juga mendorong petani menerapkan pola pertanian adaptif terhadap iklim dan mengelola lahan secara ramah lingkungan. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak turut memperkuat ketahanan pangan, lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat. (***)



















