Home / Hukum & Kriminal / Nasioanal

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:48 WIB

Hanya 6,5% Manfaat MBG Sampai ke Anak, Fakta Mengejutkan

Survei Porec: Hanya 6,5 Persen Manfaat MBG Dirasakan Anak-anak

Survei Porec: Hanya 6,5 Persen Manfaat MBG Dirasakan Anak-anak

Jakarta, Aksarabrita.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto menghadapi sorotan tajam. Survei nasional Policy Research Center (Porec) menunjukkan hanya 6,5 persen manfaat program yang benar-benar dirasakan anak-anak sebagai penerima utama.

Sebaliknya, 88,5 persen responden menilai manfaat MBG lebih banyak mengalir kepada elite politik dan pengelola dapur program.

Porec melakukan survei pada Maret 2026 terhadap 1.168 responden di seluruh Indonesia. Sebanyak 80,4 persen responden merupakan penerima langsung MBG atau anggota keluarganya.

Direktur Riset Porec, Arif Novianto, menyebut 44,5 persen responden menilai manfaat MBG menguntungkan elite dan pejabat politik. Sementara 44 persen lainnya menunjuk pengelola serta mitra dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Hanya 6,5 persen yang menyebut anak-anak sebagai pihak yang paling diuntungkan,” kata Arif.

Kepercayaan Publik Menurun

Survei yang sama juga menunjukkan tingginya kekhawatiran publik terhadap tata kelola program MBG yang menelan anggaran Rp335 triliun dalam APBN 2026.

Sebanyak 87 persen responden menilai program ini sangat rentan terhadap korupsi. Lalu, 79 persen responden meyakini oknum tertentu sengaja menurunkan kualitas makanan demi keuntungan pribadi. Sementara 76 persen responden menilai porsi dan kandungan gizi yang diterima tidak sebanding dengan biaya Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi.

Baca Juga :  Bawa 5 Butir Ekstasi, Pemuda Bengkulu Diringkus di Polisi

Di lapangan, masyarakat mengeluhkan kualitas makanan, minimnya transparansi, dugaan mark-up anggaran, serta masalah distribusi.

Gejala Elite Capture

Porec menilai kondisi tersebut mencerminkan fenomena elite capture, yaitu ketika kelompok yang memiliki kekuasaan menguasai manfaat program yang seharusnya menyasar masyarakat rentan.

Dalam kondisi seperti itu, program sosial tidak lagi berfungsi sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan, melainkan menjadi ruang distribusi keuntungan bagi pihak yang memiliki akses dan pengaruh.

Dorongan Evaluasi Total

Ketidakpuasan masyarakat terhadap MBG juga tergolong tinggi. Sebanyak 80 persen responden menolak kelanjutan program dengan tata kelola saat ini. Hanya sekitar 20 persen yang masih mendukung.

Sebanyak 97,8 persen responden mengaku siap mengambil tindakan, mulai dari petisi dan advokasi (31,1 persen), kampanye di media sosial (29,4 persen), hingga pelaporan melalui jalur resmi (27,9 persen).

Atas temuan tersebut, Porec mendorong pemerintah menghentikan sementara program MBG untuk menjalani evaluasi menyeluruh oleh konsorsium independen. Porec juga meminta pemerintah menata ulang model pengelolaan SPPG dan memperkuat peran komunitas maupun koperasi.

Tersandung Dugaan Korupsi

Temuan survei ini muncul setelah Kejaksaan Agung menetapkan tiga mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola MBG.

Baca Juga :  TNI Wujudkan Air Bersih untuk Warga Pegunungan Bintang

Ketiganya yakni mantan Kepala BGN Dadan Hindayana serta dua mantan Wakil Kepala BGN, Sonny Sanjaya dan Lodewyk Pusung.

Penyidik menemukan konflik kepentingan dalam pengelolaan dapur MBG. Sejumlah yayasan mitra pelaksana diketahui memiliki hubungan dengan para pejabat terkait. Kondisi tersebut diduga membuka ruang intervensi dalam proses verifikasi dan penyaluran anggaran.

Penyidik juga mengusut dugaan mark-up pada pengadaan ribuan motor listrik, puluhan ribu pasang sepatu, tablet, serta televisi berukuran 75 inci. Saat ini Kejaksaan Agung masih menghitung total kerugian negara.

DPR Minta Pembenahan

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, menilai hasil survei tersebut menjadi alarm serius bagi pemerintah.

Menurutnya, angka 6,5 persen menunjukkan manfaat program belum sepenuhnya sampai kepada kelompok sasaran. Ia meminta pemerintah mengevaluasi model pengelolaan SPPG serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas program.

Saat ini MBG telah berjalan di 38 provinsi dengan ribuan SPPG. Namun, BGN juga menutup sementara sejumlah SPPG yang tidak memenuhi standar kelayakan. **

Share :

Baca Juga

Nasioanal

Yenny Wahid Kritik Tunjangan DPR Rp50 Juta: Rakyat Sulit, Jangan Hamburkan Uang
Pemerintah Pastikan Pilpres Tetap Dipilih Langsung oleh Rakyat

Nasioanal

Pemerintah Pastikan Pilpres Tetap Dipilih Langsung oleh Rakyat
Wakil Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Suharmen

Nasioanal

Revisi UU ASN: Selamat Tinggal Paruh Waktu
BPJS Wajibkan Skrining Kesehatan untuk Semua Peserta

Kesehatan & Olahraga

BPJS Wajibkan Skrining Kesehatan untuk Semua Peserta

Nasioanal

 Jatuhnya Pesawat Latih di Ciampea Masih Misterius

Batang Hari

Cinta Terlarang Istri Seorang Perwira Polisi di RSUP M. Djamil Padang
Sempat Menghilang Pengasuh Ponpes di Pati Akhirnya Tertangkap

Hukum & Kriminal

Sempat Menghilang, Pengasuh Ponpes Akhirnya Tertangkap
Atlet Angkat Besi Nurul Akmal Dilantik PPPK Paruh Waktu

Nasioanal

Atlet Angkat Besi Nurul Akmal Dilantik PPPK Paruh Waktu