JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia terus mengganggu aktivitas penerbangan. Kabut asap karhutla menurunkan jarak pandang dan menghambat operasional sejumlah bandar udara.
Kementerian Perhubungan mencatat karhutla mengganggu 1.673 penerbangan berjadwal dalam negeri sepanjang 11 Agustus hingga 9 Oktober 2026.
Dari jumlah tersebut, 745 penerbangan mengalami keterlambatan. Kemudian, maskapai membatalkan atau menunda 907 penerbangan.
Sebanyak 15 penerbangan mengalihkan pendaratan ke bandar udara lain. Sementara itu, 6 penerbangan kembali ke bandar udara keberangkatan atau return to base (RTB).
Maskapai Hadapi Kerugian Puluhan Miliar
Dampak karhutla juga menekan kinerja maskapai penerbangan. Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Nasional Indonesia (INACA) mencatat sekitar 500 penerbangan batal sepanjang September 2026 akibat kabut asap karhutla.
INACA memperkirakan pembatalan penerbangan tersebut menimbulkan kerugian lebih dari Rp22 miliar bagi seluruh maskapai.
Kerugian itu belum mencakup dampak ekonomi terhadap sektor pendukung penerbangan. Pengelola bandara, restoran, kafe, warung, gerai, taksi, hingga hotel juga menghadapi penurunan aktivitas akibat gangguan penerbangan.
Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto mengatakan kondisi tersebut mendorong maskapai memperkuat antisipasi terhadap bencana dan fenomena cuaca.
“Pihak maskapai akan semakin memperhatikan kejadian bencana dan fenomena cuaca untuk penjadwalan penerbangan yang lebih prediktif,” kata Bayu di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Bayu juga mendorong seluruh pemangku kepentingan memperkuat sistem prediksi, peringatan dini, dan mitigasi.
“Kami juga berharap seluruh pemangku kepentingan bisa membuat prediksi yang lebih akurat, early warning, serta mitigasi yang efektif,” ujarnya.
Gangguan penerbangan akibat karhutla menunjukkan dampak kabut asap tidak hanya menyentuh sektor lingkungan dan kesehatan. Kondisi tersebut juga mengganggu konektivitas udara serta aktivitas ekonomi di berbagai daerah. (**)




















