KEDIRI – Video percakapan di dalam mobil yang menyinggung dugaan pembagian komisi proyek pembangunan Kelompok Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kediri viral di media sosial. Dalam video itu, seorang perempuan diduga menyerahkan komisi kepada pejabat TNI.
Video tersebut juga memuat narasi soal praktik jual beli titik proyek dan aliran fee kepada oknum TNI serta ASN dalam program KDKMP di Kediri.
Komandan Kodim 0809/Kediri, Letkol Inf. Dhavid Nur Hadiansyah, langsung memberi klarifikasi dalam konferensi pers di Makodim 0809/Kediri, Ahad (17/5/2026). Ia menegaskan seluruh tudingan dalam video tidak benar dan tidak sesuai fakta di lapangan.
“Saya nyatakan video itu tidak benar. Tidak ada jual beli titik KDKMP,” tegasnya di hadapan awak media.
Menurut Dhavid, narasi dalam video memicu kegaduhan dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Karena itu, Kodim 0809/Kediri segera mengumpulkan jajaran staf, para Danramil, dan awak media untuk menyampaikan klarifikasi resmi.
Dhavid memastikan dirinya tidak pernah menjalin hubungan ataupun komunikasi dengan oknum ASN yang muncul dalam video tersebut. Ia mengaku baru mengetahui video itu setelah pembahasannya ramai di media sosial.
Video viral itu memperlihatkan seorang wanita berseragam ASN bersama pria berpakaian loreng TNI. Narasi video menuding adanya aliran dana kepada pejabat Kodim terkait program KDKMP.
Namun, Dhavid menegaskan program KDKMP bukan proyek komersial. Pemerintah menjalankan program itu sebagai bagian dari program strategis Presiden RI berbasis padat karya sesuai Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah menyiapkan lahan pembangunan. Kodim 0809/Kediri menangani pembangunan fisik di lapangan, sedangkan Agrinas menyediakan anggaran program.
Dhavid juga memastikan pihaknya akan menelusuri penyebar video tersebut karena narasi yang beredar mencoreng nama baik institusi dan anggota Babinsa di lapangan.
“Kalau itu salah, akan saya cari orangnya, apa maksud dari video yang tersebar itu,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Dhavid meminta masyarakat lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak langsung menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.**




















