Aksarabrita.com // Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hujan lebat melanda sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir, Periode 23 – 29 Januari 2026. Intensitas hujan tertinggi terjadi di Nusa Tenggara Barat dengan curah hujan mencapai 83,8 mm per hari. Hujan lebat juga mengguyur Maluku sebesar 70,4 mm, Sulawesi Selatan 63,4 mm, Bali 61,5 mm, Banten 60,2 mm, Jawa Barat 54,8 mm, serta Sulawesi Barat 50,1 mm per hari.
BMKG menjelaskan kombinasi faktor atmosfer regional memicu cuaca ekstrem tersebut. Sirkulasi siklonik dan penguatan Monsun Dingin Asia secara bersamaan meningkatkan pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia.
BMKG memantau Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat serta Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria. Kedua sistem tersebut memperkuat daerah konvergensi skala luas di wilayah selatan Indonesia yang meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku bagian selatan, hingga Papua Selatan.
Monsun Asia aktif membawa suplai massa udara lembap dari Laut Cina Selatan menuju Indonesia melalui Selat Karimata. Seruakan udara dingin dari dataran tinggi Siberia ikut memperkuat aliran ini hingga melintasi ekuator dan mencapai Pulau Jawa. Kondisi tersebut meningkatkan indeks surge dan Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. Aliran udara lembap ini mendorong pembentukan awan hujan secara masif di wilayah Indonesia bagian selatan.
BMKG memprakirakan dinamika atmosfer global, regional, dan lokal tetap memengaruhi cuaca Indonesia dalam sepekan ke depan. Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation menunjukkan fase negatif yang mengarah pada La Niña lemah. Nilai Southern Oscillation Index yang cenderung positif meningkatkan pasokan uap air dan mendukung pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
Bibit Siklon Tropis 91S saat ini berada di Samudra Hindia selatan Sumbawa dengan tekanan minimum sekitar 1004 hPa dan kecepatan angin maksimum mencapai 30 knot. Sistem ini bergerak ke arah selatan–tenggara dan memiliki potensi tinggi berkembang menjadi siklon tropis dalam 48 hingga 72 jam ke depan. Bibit siklon ini meningkatkan kecepatan angin lebih dari 25 knot di Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Pulau Sumba, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta perairan utara Pulau Madura hingga Flores. Sistem tersebut juga memicu pertemuan dan perlambatan angin di perairan selatan Jawa Timur hingga Pulau Timor.
Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 92P berada di Teluk Carpentaria dengan tekanan udara minimum 1008 hPa dan kecepatan angin sekitar 15 knot. Sistem ini bergerak ke arah selatan–tenggara dan memiliki potensi rendah berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 hingga 72 jam ke depan. Meski begitu, Bibit Siklon 92P meningkatkan kecepatan angin lebih dari 25 knot di wilayah Laut Banda, Laut Arafura, Maluku bagian selatan hingga tenggara, serta Papua Selatan. Sistem ini juga membentuk daerah pertemuan dan perlambatan angin di Laut Timor hingga Papua Selatan.
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprediksi Monsun Asia semakin menguat dan disertai peningkatan Cross Equatorial Northerly Surge. Massa udara lembap bergerak lebih cepat melintasi ekuator menuju wilayah selatan Indonesia. Kondisi ini meningkatkan potensi kejadian cuaca ekstrem di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Aktivitas Madden–Julian Oscillation bergerak aktif melintasi Perairan Timur Lampung, Lampung, Kepulauan Seribu, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara. Gelombang Rossby Ekuator juga aktif di Samudra Hindia barat Sumatera Utara hingga Lampung, sementara Gelombang Kelvin memengaruhi wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Selat Malaka, serta perairan Dumai hingga Bengkalis. Kombinasi gelombang atmosfer ini meningkatkan aktivitas konvektif dan memperbesar potensi hujan lebat hingga ekstrem.
BMKG menilai potensi cuaca ekstrem masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, banjir bandang, dan longsor.
BMKG mengimbau masyarakat memantau informasi resmi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui situs www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infoBMKG. BMKG juga menyediakan layanan Digital Weather for Traffic yang terintegrasi di seluruh Indonesia untuk membantu masyarakat merencanakan perjalanan darat, laut, dan udara secara lebih aman.
Sumber: BMKG



















