BALIKPAPAN, Aksarabrita.com – Anggota Komisi XII DPR RI, Syarif Fasha mendorong percepatan eksplorasi sumur dan lapangan baru untuk menjaga sekaligus meningkatkan lifting minyak nasional. Ia menilai strategi tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah.
Fasha menyampaikan dorongan itu saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR RI ke PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) di Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (21/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia mengapresiasi kinerja PHM yang mampu mempertahankan produksi Blok Mahakam meski telah beroperasi selama puluhan tahun.
Sejumlah sumur di wilayah kerja Mahakam kini mencapai usia sekitar 57 tahun. Kondisi tersebut membuat PHM menghadapi tantangan besar untuk menjaga produktivitas sumur.
“Kita harus pahami dahulu bahwa yang dikelola Pertamina Hulu Mahakam adalah blok-blok sumur yang sudah tua sekali, yang usianya sudah 57 tahun. Jadi mau diupayakan sedapat mungkin supaya dia tetap produktif,” ujar Fasha.
Politisi Fraksi Partai NasDem itu mengatakan penurunan produksi pada lapangan tua mengikuti proses alamiah. Karena itu, Fasha menilai peningkatan lifting tidak cukup hanya dengan mengoptimalkan sumur eksisting.
“Kalau kita mau jaga produksinya seperti sebelum-sebelumnya itu tidak bisa juga, karena ini adalah hukum alam. Bahan bakar fosil itu semakin lama semakin terkuras, semakin habis. Jadi harus mencari sumur-sumur baru lagi,” jelas Fasha.
Meski menghadapi tantangan usia lapangan, Blok Mahakam masih memberikan kontribusi penting terhadap produksi nasional. Data yang disampaikan dalam kunjungan tersebut menunjukkan produksi minyak Blok Mahakam mencapai sekitar 24 ribu barel per hari pada Juli 2026. Angka itu melampaui target APBN yang berada di kisaran 22 ribu barel per hari.
Selain minyak, Blok Mahakam juga menjadi salah satu penopang produksi gas nasional setelah Tangguh. Fasha menilai capaian tersebut membuktikan bahwa lapangan tua masih mampu memberikan kontribusi signifikan jika operator mengelolanya secara optimal.
Fasha juga mendorong PHM mengoptimalkan sumur-sumur tua yang masih memiliki potensi produksi. Salah satu langkahnya melalui pekerjaan workover untuk mengaktifkan kembali sumur yang sebelumnya tidak berproduksi.
“Terkait menambah lifting, ada sumur-sumur yang sudah idle kemudian dilaksanakan pekerjaan workover. Berarti sumur-sumur tua ini mau dihidupkan kembali,” ungkap Fasha.
Namun, Fasha menegaskan optimalisasi lapangan tua harus berjalan bersama eksplorasi sumber minyak baru. Menurutnya, Indonesia membutuhkan cadangan baru agar produksi nasional tidak terus bergantung pada lapangan yang telah berusia puluhan tahun.
“Kalau dibilang produktif, ya produktif. Karena kita butuh crude oil, butuh minyak mentah. Daripada kita impor terus, lebih baik kita mengupayakan minyak yang ada,” tegas Fasha.
Komisi XII DPR RI juga melihat tantangan serupa pada sejumlah wilayah kerja migas besar dan matang lainnya, seperti Banyu Urip di Blok Cepu dan Blok Rokan. Kondisi tersebut mendorong perlunya strategi berkelanjutan untuk menjaga kesinambungan produksi minyak nasional. (***)




















