Jakarta, aksarabrita.com – Dunia pergerakan mahasiswa Indonesia kembali melahirkan sosok muda yang menarik perhatian publik. Fathimah Azzahra, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) angkatan 2023, kini mengemban amanah sebagai Wakil Ketua BEM UI periode 2026 mendampingi Yatalathof Ma’shum Imawan.
Di tengah meningkatnya skeptisisme masyarakat terhadap gerakan mahasiswa, Fathimah menawarkan pendekatan yang berbeda. Ia tidak membangun popularitas melalui retorika yang meledak-ledak atau aksi yang penuh emosi. Sebaliknya, ia mengandalkan argumentasi yang tenang, sistematis, dan berbasis data.
Latar belakangnya sebagai mahasiswa kedokteran turut membentuk cara pandangnya dalam melihat persoalan bangsa. Baginya, kritik terhadap kebijakan publik harus berpijak pada fakta, data lapangan, dan analisis yang rasional.
Mencuri Perhatian Lewat Kritik yang Terukur
Nama Fathimah semakin dikenal publik setelah tampil dalam forum debat yang disiarkan CNN Indonesia. Dalam forum tersebut, ia menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah dengan gaya yang lugas, santun, namun tetap tajam.
Potongan pernyataannya kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial
seperti TikTok, Instagram, dan X. Banyak warganet menilai Fathimah mampu menyuarakan keresahan masyarakat dengan cara yang cerdas dan berbobot.
Sejak saat itu, namanya mulai masuk dalam perbincangan publik sebagai salah satu figur mahasiswa yang berani mengkritisi kebijakan dengan pendekatan ilmiah.
Pendidikan Butuh Akses yang Layak
Salah satu pernyataan Fathimah yang paling banyak mendapat perhatian muncul saat ia membahas persoalan infrastruktur pendidikan.
“Anak sekolah itu butuh akses, bukan cuma makanan gratis. Banyak anak di daerah terpencil yang harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai dengan jembatan rusak atau perahu seadanya hanya demi bisa sampai ke sekolah.”
Melalui pernyataan tersebut, Fathimah menekankan pentingnya akses pendidikan yang aman dan layak. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan setiap anak dapat menjangkau sekolah dengan mudah sebelum memperluas berbagai program bantuan lainnya.
Negara Harus Menyelesaikan Akar Masalah
Sebagai mahasiswa kedokteran, Fathimah kerap menggunakan pendekatan medis untuk menjelaskan persoalan bangsa.
“Persoalan yang dihadapi bangsa saat ini seperti penyakit. Penyakit itu harus ditangani secara tegas dari akarnya agar tidak semakin memburuk dan meluas ke mana-mana.”
Melalui analogi tersebut, ia mengingatkan bahwa pemerintah perlu menyelesaikan sumber persoalan, bukan hanya menangani dampak yang muncul di permukaan.
Menurutnya, kebijakan yang efektif harus mampu menjawab akar masalah secara menyeluruh agar menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.
Pertanyaan yang Memicu Diskusi Publik
Fathimah juga melontarkan pertanyaan yang memancing diskusi luas di ruang publik.
“Siapa sebenarnya yang paling kenyang dengan program Makan Bergizi Gratis ini?”
Melalui pertanyaan tersebut, ia mendorong transparansi dalam pengelolaan anggaran negara. Ia menilai masyarakat berhak mengetahui bagaimana program berskala besar dijalankan dan siapa saja yang memperoleh manfaat dari pelaksanaannya.
Bagi Fathimah, pengawasan publik menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga akuntabilitas pemerintah.
Menyoroti Budaya Antikritik
Selain mengkritisi kebijakan, Fathimah juga menyoroti cara pemerintah merespons kritik dari masyarakat.
“Ketika menghadapi kritik di podium, presiden menjadikannya bahan bercandaan dan tidak menunjukkan rasa hormat. Orang-orang yang memberikan kritik justru dikesampingkan dan disebut sebagai antek-antek asing.”
Pernyataan tersebut memicu perdebatan mengenai kualitas demokrasi, kebebasan berpendapat, serta ruang kritik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Representasi Generasi Kritis
Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, kehadiran Fathimah Azzahra menunjukkan lahirnya generasi baru pemimpin mahasiswa yang mengedepankan data, argumentasi ilmiah, dan keberanian intelektual.
Ia tidak hanya berperan sebagai aktivis kampus, tetapi juga menjadi representasi suara publik yang menginginkan kebijakan negara berjalan secara transparan, akuntabel, dan berpihak kepada masyarakat.
Di usia yang masih muda, Fathimah membuktikan bahwa kritik tidak selalu harus hadir dalam bentuk kemarahan. Data yang kuat, logika yang tajam, dan keberanian menyampaikan kebenaran justru mampu memberikan pengaruh yang lebih besar dalam ruang demokrasi. *



















